Pendahuluan
Ketika sebuah startup berkembang pesat, basis kode monolithic yang semula sederhana lambat laun akan mulai menua dan melambat. Penambahan fitur baru berisiko merusak modul lain yang tidak berhubungan. Di sinilah arsitektur Microservices seringkali dielu-elukan sebagai penyelamat. Namun, memecah aplikasi menjadi puluhan servis kecil mendatangkan tantangan kompleksitas baru yang tidak kalah rumitnya.
1. Kapan Harus Migrasi ke Microservices?
Jangan terburu-buru melakukan migrasi hanya karena tren teknologi. Transisi ke microservices sebaiknya dilakukan hanya bila Anda menemui tanda-tanda berikut:
- Tim Developer Bertambah Besar: Ketika lebih dari 20 developer bekerja di repositori monolithic yang sama, terjadi antrian rilis kode (release bottleneck).
- Kebutuhan Scaling Independen: Modul tertentu (misalnya sistem checkout transaksi) membutuhkan resource server jauh lebih besar daripada modul profile pengguna.
- Teknologi Berbeda: Butuh menggunakan bahasa khusus untuk tugas tertentu (misalnya Python untuk pemrosesan AI, sementara Go untuk API berkecepatan tinggi).
